MELIHAT KEAJAIBAN DUNIA KE-8 DARI PROSES TAMBANG YANG BERMANFAAT

Kegiatan pertambangan merupakan hal lumrah untuk meningkatkan martabat manusia, mungkin bisa disamakan dengan makan dan minum untuk tetap hidup. Dari proses pertambangan ini kita bisa menggunakan mobil, motor, jam tangan, telepon genggam, bahkan peniti.

Setiap aktivitas pertambangan pasti merubah topografi alam. “Keajaiban Dunia Ke-8” ini terpampang jelas melalui gambar berikut.

20150119_151834

Gambar tersebut adalah open pit yang beroperasi di Batu Hijau, Sumbawa Barat, NTB dan dikelola oleh PT Newmont Nusa Tenggara. Kawah tersebut kedalamannya mencapai 200 meter. Beda tipis kan sama kawah yang dibentuk sama meteorit berikut.

Barringer-Arizona-USA-01

Perbedaan mendasar dari gambar kedua kawah tersebut hanya waktu terjadinya. Gambar atas terbentuk selama penggalian lebih dari 10 tahun dan gambar bawah hanya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, mungkin 1 detik.

Proses penggalian yang merubah bentang alam merupakan hal wajar karena Tuhan tidak menyediakan kekayaan mineral di atas tanah semudah memetik apel di pohon. Kekayaan mineral berupa hasil tambang seperti emas, tembaga, besi, dan perak digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, sama halnya dengan petani yang menanam padi untuk dimakan. Oleh karena itu, “Keajaiban Dunia Ke-8” ini tidak sepatutnya dihujat karena merusak ekosistem. Proses pertambangan pasti merusak lingkungan, tapi yang terpenting adalah bagaimana cara meminimalisasi kerusakannya 🙂

 

 

Rencana Pembangunan Smelter Alumina di Halmahera, Maluku Utara untuk Tahun 2017

No.

Kriteria

Bobot

Alasan

1.

Sumber energi listrik untuk proses produksi yang mencukupi.

15%

Energi listrik sangat dibutuhkan untuk menjalankan mesin-mesin pemurnian alumina yang kira-kira sebesar 5.000 kWh.

2.

Jarak antara lokasi penambangan bauksit dengan smelter alumina.

8%

Jarak yang lebih singkat akan memudahkan proses distribusi dan meminimalisasi penggunaan bahan bakar ke lokasi pemurnian.

3.

Ketersediaan sumber daya manusia.

12%

Sumber daya manusia yang ada harus mampu menjalankan mesin-mesin produksi.

4.

Dampak pencemaran terhadap lingkungan.

10%

Hasil buangan dari proses pemurnian wajib dimonitor agar tidak mengganggu ekosistem di sekitar lokasi smelter, khususnya dalam kualitas air tanahnya.

5.

Metode dalam smelting alumina yang murah dan efisien.

5%

Metode dalam pemurnian sebaiknya dipilih berdasarkan konsumsi energi yang rendah namun tidak menurunkan hasil produksi.

6.

Kemudahan dalam pendistribusian logistik bagi pekerja di lokasi smelter.

10%

Tenaga kerja membutuhkan ketersediaan logistik yang memadai agar kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan baik saat bekerja.

7.

Dekat dengan laut lepas.

15%

Fungsinya agar alumina ini dapat diekspor ataupun dikirim ke PT Inalum di Sumatera Utara untuk diubah menjadi alumunium.

8.

Morfologi lokasi smelter yang cukup datar.

8%

Permukaan tanah yang datar sangat ideal untuk dijadikan bangunan agar tidak mengganggu proses produksi.

9.

Tidak berada di area taman nasional maupun area dilindungi lainnya.

10%

Flora dan fauna bersama keanekaragaman hayati lainnya tetap terjaga dan tidak membuatnya punah.

10.

Jauh dari area pertanian dan perkebunan rakyat.

4%

Kegiatan masyarakat sekitar yang sudah menjadi mata pencaharian utama tidak boleh terusik oleh keberadaan smelter ini.

 

 

Potensi Energi Geotermal untuk Kesejahteraan Bangsa

 

Sumber daya energi negara Indonesia adalah salah satu yang terbesar cadangannya di dunia dalam semua jenis sumber energinya. Pemanfaatan energi ini sebagian besar belum maksimal dieksploitasi dan digunakan untuk kebutuhan masyarakat Indonesia. Pemanfaatan energi tersebut sebagian besar dibutuhkan dalam menghasilkan energi listrik untuk menjangkau daerah-daerah pelosok negeri. Kebutuhan akan aliran listrik ini merupakan fakta di lapangan yang harus diseriusi oleh pemerintah sekarang karena dalam MDG’s(Millenium Development Goals), sebelum tahun 2015 negara ini harus bisa mandiri dalam mencukupi kebutuhan rakyatnya.

Energi yang ramah lingkungan dan dapat terbarukan adalah dua poin penting dalam menghadapi era milenium ke depan. Energi tersebut juga harus efektif dan murah untuk mencukupi kebutuhan rakyat Indonesia yang memiliki jumlah penduduk besar. Salah satu energi tersebut adalah energi geotermal.

Energi geotermal berasal dari aktivitas vulkanik/gunung api yang panasnya dimanfaatkan untuk menghasilkan uap dan menggerakkan turbin generator sehingga menghasilkan listrik yang besar. Potensi terdapatnya energi geotermal di Indonesia sangatlah besar dibandingkan dengan energi lainnya seperti batu bara. Wilayah geografis Indonesia yang berada pada area Ring of Fire memungkinkan pemanfaatan energi geotermal ini sebagai pembangkit listrik yang efisien dan ramah lingkungan. Sebut saja PT Pertamina Geothermal Energy yang sudah memanfaatkan potensi energi geotermal secara menyeluruh. Dampak langsungnya seperti yang terdapat di Sulawesi Utara, tepatnya di Pertamina Geothermal Energy(PGE) Lahendong yang memasok listrik di kawasan ibukota provinsi, yaitu Manado. Kota Manado menjadi suatu wilayah di Sulawesi Utara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi, bahkan Provinsi Sulawesi Utara menjadi provinsi yang memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi pada tahun 2012 sebesar 7,6 %. Persentase pertumbuhan ekonomi tersebut lebih besar dibandingkan dengan persentase pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 %. Hal ini karena pasokan sumber energi listrik untuk menggerakkan roda perekonomian yang cukup dari PGE Lahendong. Hal ini merupakan bukti nyata dari keberhasilan pemanfaatan energi nasional berupa energi geotermal yang digunakan secara maksimal untuk menyejahterakan rakyat sekitar.

PT Pertamina Geothermal Energy(PGE) merupakan anak perusahaan dari PT Pertamina yang berfokus pada pemanfaatan energi geotermal tanah air untuk menghasilkan listrik bagi konsumsi masyarakat Indonesia. Saat ini, terdapat sekurang-kurangnya 251 lokasi potensi geotermal di seluruh Indonesia yang tersebar di 26 provinsi dengan total potensi energi 27.140 MW atau setara dengan 219 milyar ekuivalen Barel minyak. Sangat mencengangkan, sebab potensi energi geotermal di Indonesia mencakup 40 % potensi geotermal dunia. Namun, hanya sekitar 4 % atau 1.194 MW dari potensi yang ada baru dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.

Proses produksi energi geotermal menjadi energi listrik memang tidak sederhana. Energi geotermal yang berasal dari magma tidak serta merta langsung bisa digunakan secara praktis untuk menghasilkan energi listrik. Dalam pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi(PLTP) biasanya digunakan metode Enhanced (or Engineered) Geothermal Systems(EGS). Departemen Energi Amerika Serikat mendefinisikan EGS sebagai perekayasaan reservoir tanah untuk mengekstrak panas dari permeabilitas yang rendah (jumlah akuifer yang minim). Jadi, metode EGS ini digunakan di tempat-tempat yang memiliki tingkat air tanah di lapisan akuifer yang rendah akibat curah hujan yang rendah pula. Di Indonesia sendiri, metode ini digunakan agar pasokan air yang digunakan dalam proses di PLTP tidak bergantung kepada alam sehingga produksi listrik bisa terus berjalan walaupun curah hujannya cukup tinggi. Dalam metode EGS ini digunakan dua jenis sumur untuk keperluannya, yaitu injection well dan production well. Injection well adalah sumur yang digunakan untuk menginjeksi air dari permukaan ke lapisan intrusi magma di perut bumi sedangkan production well adalah sumur yang digunakan untuk memproduksi hasil pemanasan air oleh magma dari perut bumi ke permukaan untuk disalurkan ke pipa-pipa yang menuju generator. Secara skematis, proses tersebut dapat dilihat dari bagan berikut:  

Kebutuhan air dalam pengoperasian PLTP ini menjadi sangat penting. Air yang digunakan dalam metode EGS ini bisa digunakan kembali untuk melakukan injeksi ke dalam lapisan magma sehingga tidak membuang-buang ketersediaan air di sekitar lingkungan tersebut walaupun kurang dari 10%-nya biasanya menguap ke atmosfer ketika berada di permukaan.

Penjelasan di atas merupakan suatu bukti nyata bahwa Indonesia sudah selayaknya bisa mandiri dalam mengelola sumber energinya. Kita semua yakin bahwa sumber daya manusia generasi Indonesia sudah mampu dan ahli untuk mengolah kekayaan negerinya sendiri. Dengan memanfaatkan energi geotermal ini saja, tidak akan ada lagi pemadaman bergilir yang dilakukan oleh PT PLN(Perusahaan Listrik Negara) yang dapat menghambat proses produksi roda perekonomian masyarakat Indonesia. Seharusnya pemerintah memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan serius untuk mengelola energi nasional untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, program-program kemandirian energi nasional dapat dicapai selambat-lambatnya pada akhir dekade ini karena sumber daya manusia Indonesia sudah jauh lebih pintar dibandingkan dengan generasi para pemimpin sekarang sehingga mereka masih underestimate  terhadap generasi muda Indonesia.

Indonesia adalah negara kaya, kaya dengan sumber daya alamnya dan sumber energinya. Sumber daya alam yang melimpah hanya dapat diolah dengan daya dukung energi yang cukup untuk mengolahnya pula. Indonesia sudah memiliki keduanya. Sumber daya manusianya pun sudah mumpuni untuk mengolah semua itu menjadi sebuah ladang “emas” baru yang lebih besar dari keuntungan minyak bumi dan sumber daya alam lain yang jumlahnya kian hari kian menipis karena tidak bisa dihasilkan kembali. Namun, energi geotermal merupakan anugerah dari Tuhan untuk negara Indonesia agar dapat dimanfaatkan dengan maksimal oleh pemerintah dan rakyatnya yang tidak akan pernah habis dalam jangka waktu 5 tahun. Hal ini disebabkan karena energi geotermal berasal dari magma yang akan selalu berada di perut bumi dan juga daerah aktif lempeng bumi. Telah kita ketahui bahwa Indonesia berada di perbatasan lempeng yang saling bertemu sehingga menciptakan banyak sekali gunung berapi di Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua hingga pulau-pulau di Nusa Tenggara. Oleh karena itu, sudah saatnya bangsa Indonesia benar-benar mandiri dalam mengolah sumber energinya yang dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan roda perekonomian negara berupa produksi energi listrik untuk kebutuhan masyarakat.

Selain itu juga, dalam Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 7 tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral yang salah satunya berbunyi “Kegiatan pengolahan dan/atau pemurnian ditetapkan batasan minimum pengolahan dan/atau pemurnian berdasarkan atas pertimbangan yang salah satunya untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi logam di dalam negeri,“ energi listrik yang dihasilkan dari pemanfaatan energi geotermal dapat digunakan untuk mengolah sumber daya alam mentah Indonesia. Banyak dari sumber daya alam Indonesia berupa bahan tambang hanya diambil bijihnya saja dan diekspor untuk diolah menjadi bahan jadi sehingga hanya sedikit keuntungan dari sektor tambang yang disumbangkan ke negara. Dengan pemanfaatan energi geotermal yang melimpah ini, akan banyak pabrik pengolahan bahan tambang yang didirikan di dalam negeri, tentunya dengan daya dukung energi listrik yang menunjang dalam keberlangsungan proses di pabriknya.

Indonesia merupakan negara dengan jumlah sumber daya alam juga manusianya yang besar. Sudah saatnya Indonesia mandiri dalam berbagai bidang. Sektor tambang dan energinya yang melimpah adalah modal dasar yang harus bisa dimanfaatkan bagi kesejahteraan bangsa ini. Sudah saatnya Indonesia bertransformasi dari negara berkembang menjadi negara maju seperti Singapura dan Korea Selatan. Kita pasti bisa, generasi muda Indonesia.

 

Referensi:

Submarine Tailing Placement Technique untuk Mewujudkan Operasi Tambang yang Bertanggung Jawab

Gambar

Indonesia adalah surga dunia. Kekayaan bahan tambang Indonesia membentang dari 95 – 1410 bujur timur dan menempati urutan ke-6 di dunia. Aktivitas pertambangan di Indonesia tentunya tak dapat dihindari demi memenuhi kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia akan perlunya pembangunan di segala aspek kehidupan dan perkembangan teknologi yang pesat menjadikan kegiatan pemurnian bahan tambang sangat krusial dan harus dilakukan. Kegiatan pertambangan juga tentunya tidak akan terlepas dari hasil buangan yang dihasilkannya. Manajemen yang baik dalam kegiatan pertambangan sangat diperlukan agar dampak lingkungan yang ditimbulkannya dapat diminimalisir atau bahkan zero effect. Perkembangan teknologi dan rekayasa pertambangan yang sudah sangat pesat sebenarnya dapat mewujudkan impian tersebut. Pemerintah Indonesia pun sudah mengeluarkan regulasi yang jelas untuk mengelola hasil bumi nusantara yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba). Maka dari itu, solusi dari limbah hasil produksi bahan tambang dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan submarine tailing placement technique atau teknik penempatan tailing di dasar laut yang dilakukan oleh PT Newmont Nusa Tengggara.

Tailing merupakan limbah yang dihasilkan dari proses penggerusan batuan tambang (ore) yang mengandung bijih mineral untuk diambil mineral berharganya. Setiap kegiatan pertambangan pasti menghasilkan tailing. Hal ini tidak dapat dihindari karena mineral berharga yang terkandung dalam batuan sangatlah kecil. Misalnya, dalam penambangan emas secara bawah tanah di Jawa Barat, 1 ton batuan hanya mengandung 9 gram emas (Antam, 2006). Itu artinya, seperti sebuah kelereng dalam stadion bola, kecil tapi berharga. PT Newmont Nusa Tenggara yang selanjutnya disebut PT NNT melakukan maintenance yang modern dalam melakukan kegiatan pertambangan emas dan tembaganya di Batu Hijau, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. PT NNT menggunakan metode submarine tailing placement technique atau pembuangan tailing ke dasar laut di Samudra Hindia atau tepatnya ke parit dasar laut Senunu untuk menghindari pencemaran lingkungan yang berat jika ditempatkan di darat.

PT NNT menggunakan metode submarine tailing placement technique dengan mendasarkan analisisnya terhadap dampak lingkungan yang terjadi akibat aktivitas pertambangannya. Kegiatan pertambangan di era modern seperti sekarang mengubah paradigma yang hanya berorientasi pada pilar keuntungan ekonomi menjadi tiga pilar, yaitu orientasi ekonomi, kesejahteraan sosial, dan perlindungan lingkungan. Perlindungan lingkungan menjadi isu utama yang membuat dilema perusahaan tambang di Indonesia. Namun, PT NNT dapat menunjukkan komitmennya dalam hal konservasi lingkungan sekitar tambang. Hal ini dapat didasarkan pada dua hal berikut.

1. Mekanisme pemurnian menggunakan physics method/proses fisika

PT NNT melakukan proses konsentrasi dan flotasi sehingga sama sekali tidak menggunakan aditif bahan kimia yang beracun dan berbahaya. Proses ini dilakukan tidak seperti proses pemisahan mineral emas dan tembaga pada unit konsentrator menggunakan sianida, arsen, ataupun merkuri sebagaimana yang lazim digunakan pada pemurnian logam emas secara kimia. Sianida dapat menyebabkan kematian langsung bila masuk ke dalam tubuh manusia dan makhluk hidup lainnya, sedangkan arsen dan merkuri merupakan unsur toksik yang dapat mengendap dalam jangka waktu lama dan menyebabkan kematian di kemudian hari. Oleh karena itu, dilihat dari proses pengolahan bijihnya, penggunaan bahan kimia berbahaya dapat diminimalisir.

2. Limbah tailing dibenamkan ke parit dasar laut Senunu

Limbah tailing yang berupa slurry atau lumpur dengan komposisi material padat berbutir halus dan air laut dibuang ke parit laut Senunu berjarak 3,2 km dari garis pantai dengan kedalaman 112 meter. Pada kedalaman ini, lumpur tailing tidak akan bisa naik ke permukaan karena pada kedalaman 100 meter merupakan lapisan termoklin, di mana suhu air laut akan turun secara drastis yang memiliki tekanan berbeda ditambah dengan massa jenis lumpur sebesar 1,3 – 2,6 gr/cc yang lebih besar dari air laut sebesar 1,43 – 2,30 gr/cc. Hal ini menyebabkan lumpur slurry akan terus-menerus mengandap di dasar laut Senunu, menyatu dengan sedimen laut lainnya yang berupa lumpur lanau lempungan. Oleh karena itu, pencemaran air laut di selatan Sumbawa Barat sepenuhnya dapat dihindari karena kontaminasi lumpur slurry tidak terjadi di permukaan.

Kegiatan pertambangan didasarkan pada jumlah kandungan mineral berharga dan lokasi yang mendukung untuk proses pemurnian dan juga penempatan limbahnya. Hal ini berbanding terbalik dengan lokasi tambang Batu Hijau di Sumbawa Barat yang dikelola oleh PT Newmont Nusa Tenggara. Penambangan tembaga dan emas oleh PT NNT termasuk berkadar rendah (low grade). Setiap 1 ton batuan yang diolah, terdapat 5 kg tembaga dan hanya 0,5 kg emas yang didapat. Oleh sebab itu, PT NNT menerapkan teknologi tinggi dan peralatan yang canggih untuk mengolah batuan dengan mineral berharga berkadar rendah ini. Sedangkan, lokasi penambangannya memiliki morfologi laut yang memungkinkan untuk pembuangan limbah dengan metode submarine tailing placement technique, sebuah teknik penempatan tailing unggulan yang dianggap lebih kecil dampak dan resikonya terhadap lingkungan, dibandingkan dengan penempatan tailing di darat (Ellis, 1987). Alasan lain dilakukannya pembuangan tailing di laut dikarenakan potensi gempa di zona Ring of Fire, sebuah area di bagian selatan Indonesia dan memanjang hingga Samudra Pasifik dengan pergerakan lempeng subduksi yang besar. Bila terjadi gempa bumi, tailing yang dibuang ke danau buatan di darat dengan luas sekitar 2.310 hektar akan meratakan pemukiman penduduk. Hal ini terjadi bila PT NNT memilih membuang limbah tailing di darat daripada di laut.

Wilayah Indonesia dengan kekayaan bahan tambangnya di darat dan laut tidak akan berdaya guna bila tidak diolah. Triliunan ton mineral berharga di dalam perut bumi nusantara yang dapat menyejahterakan manusia di atasnya perlu dimaksimalkan dengan regulasi dan pengawasan yang jelas oleh pemerintah. Metode pembuangan limbah tailing memang selalu berdampak pada lingkungan sekitar, namun bukannya tidak bisa dihindari. Metode submarine tailing placement technique adalah salah satu rekayasa teknologi pertambangan yang paling efektif untuk menghindari pencemaran lingkungan akibat proses pengolahan bahan tambang. Metode yang sama dilakukan oleh PT Newmont Nusa Tenggara dengan orientasi perlindungan lingkungan. Cara ini seharusnya dapat dilakukan oleh seluruh perusahaan tambang milik negara maupun swasta. Oleh karena itu, bentuk tanggung jawab yang sangat relevan bagi perusahaan tambang di Indonesia adalah dapat melakukan proses pengolahan tambang dengan environment minimum risk sehingga tidak merampas hak untuk hidup bagi makhluk hidup di sekitarnya.

Dimas Yunianto Putro

Staf Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Teknik Metalurgi dan Material 2012

Universitas Indonesia

Referensi: